Beberapa Contoh Reaksi Eksoterm dalam Kehidupan Sehari-hari

Beberapa Contoh Reaksi Eksoterm dalam Kehidupan Sehari-hari

Reaksi eksoterm adalah jenis reaksi kimia di mana sistem melepaskan energi ke lingkungannya. Dapat juga dikatakan bahwa dalam kasus proses eksoterm, perubahan entalpi selalu negatif. Kebalikan dari reaksi eksoterm adalah reaksi endoterm. Reaksi endoterm adalah jenis reaksi kimia di mana suatu sistem menyerap energi dari lingkungannya. Dapat juga dikatakan bahwa dalam kasus proses endoterm, perubahan entalpi selalu positif.

Berikut adalah beberapa contoh rekasi eksoterm dalam kehidupan sehari-hari

1. Karat Besi

Karat besi biasanya terjadi karena reaksi kimia antara segala bentuk besi atau paduannya dengan udara lembab. Selama proses karat, besi secara kimiawi bergabung dengan oksigen yang ada di udara yang paling banyak menghasilkan panas.

Oleh karena itu karat besi termasuk dalam kategori reaksi eksotermik. Tidak heran hanya karena seluruh proses biasanya terjadi pada kecepatan yang sangat lambat, cukup sulit untuk mendeteksi pelepasan panas ke atmosfer. Semua jenis reaksi redoks atau sekadar karat pada logam apa pun adalah reaksi eksotermik.

2. Pembakaran

Semua jenis pembakaran adalah reaksi eksotermik. Baik itu ketika kita membakar kayu, batu bara, atau bahkan produk minyak bumi, semuanya melepaskan energi dalam bentuk panas atau cahaya. Sebagai contoh, ketika kita membakar batubara di pembangkit listrik tenaga batubara, proses pembakaran terjadi karena adanya oksigen yang pada gilirannya menghasilkan banyak panas yang membantu menguapkan air untuk menghasilkan uap.

Uap tersebut kemudian dilepaskan menuju sudu turbin yang dengan cara berputar sendiri memulai generator listrik untuk menghasilkan listrik. Kita dapat melihat bahwa tanpa proses pembakaran yang merupakan reaksi eksotermik, kita tidak akan memiliki listrik di rumah kita.

3. Kondensasi

Kondensasi adalah uap air naik dan mengembun sebagai awan. Kondensasi adalah jenis transisi fase di mana suatu zat berubah dari keadaan gas ke keadaan cair. Jadi, ketika uap air (gas) mengembun membentuk awan (cair), molekul uap air melepaskan energi panasnya ke lingkungan. Dengan kata lain, untuk berubah dari fase gas menjadi fase cair, harus melepaskan energi dalam bentuk panas.

4. Reaksi Nuklir

Baik itu fisi atau fusi atom, keduanya sama-sama menciptakan energi. Dengan kata lain, semua jenis reaksi nuklir menghasilkan energi dalam bentuk panas. Oleh karena itu, termasuk dalam kategori reaksi eksotermik. Reaksi fisi nuklir selanjutnya dapat dibagi menjadi dua subkategori dan begitu juga reaksi fusi nuklir.

Ketika sejumlah besar energi dihasilkan sekaligus dengan membelah atom, kami menyebut proses ini sebagai reaksi berantai yang tidak terkendali dalam fisi nuklir. Contoh khusus adalah ledakan nuklir Hiroshima dan Nagasaki. Di sisi lain, ketika energi perlahan-lahan dihasilkan dengan membelah atom dalam lingkungan yang terkendali atau berkelanjutan, kami menyebut proses ini sebagai reaksi berantai terkontrol dalam fisi nuklir.

Contoh khusus adalah pembangkit listrik tenaga nuklir yang menghasilkan listrik. Demikian pula, ketika sejumlah besar energi dihasilkan sekaligus dengan menggabungkan atom, kami menyebut proses ini sebagai reaksi berantai yang tidak terkendali dalam fusi nuklir.

Contoh khusus adalah senjata termonuklir atau bom hidrogen. Di sisi lain, ketika energi perlahan-lahan dihasilkan dengan menggabungkan atom dalam lingkungan yang terkendali atau berkelanjutan, kami menyebut proses ini sebagai reaksi berantai terkontrol dalam fusi nuklir. Sampai saat ini, sebuah reaktor yang dapat menopang fusi nuklir terkendali masih dalam tahap pengembangan.

5. Deposisi (Pengkristalan)

Sama seperti kondensasi, proses deposisi juga merupakan contoh reaksi eksoterm. Deposisi adalah jenis transisi fase di mana suatu zat berubah secara langsung dari keadaan gas ke keadaan padat yang melepaskan energi dalam bentuk panas.

Contoh khas dari pengendapan adalah pembentukan salju. Jadi, ketika uap air (gas) di awan berubah langsung menjadi es (padat), molekul uap air melepaskan energi panas ke lingkungan. Inilah sebabnya mengapa udara terasa lebih hangat saat turun salju.

6. Hot Pack

Hot Pack adalah paket dua kantong yang dipisahkan oleh selaput tipis. Kantong bagian dalam berisi air. Dan yang terluar mengandung garam ionik seperti magnesium sulfat atau kalsium klorida. Ketika selaput tipis pecah, garam akan larut dalam air. Akibatnya, ikatan ionik garam terpisah sehingga memanaskan air. Dengan kata lain, ketika kalsium klorida atau magnesium sulfat dicampur dengan air, reaksi di antara keduanya melepaskan energi dalam bentuk panas, membuat seluruh proses menjadi reaksi eksotermik.

Baca juga

10 Contoh Chemiluminescence dalam Kehidupan Sehari-hari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment